Jakarta tak pernah benar-benar berhenti. Deru mesin, klakson bersahutan, dan arus kendaraan yang saling berebut ruang menjadi latar keseharian kota. Di tengah ritme cepat itu, ada kehidupan kecil yang berjalan pelan dan kerap luput dari perhatian: pedagang cangcimen.
Di sekitar halte dan persimpangan, sosok mereka hadir tanpa suara keras. Tas besar berisi kacang, kuaci, dan permen di panggul di bahu. Tak ada lapak tetap, tak ada spanduk promosi. Mereka hanya mengandalkan momen singkat ketika kendaraan melambat atau seseorang berhenti sejenak.
Pedagang cangcimen adalah potret ekonomi informal yang terus bertahan di tengah perubahan kota. Ketika ruang publik makin tertib dan steril, mereka menyesuaikan diri dengan cara yang semakin terbatas.
Bertahan di Pinggir Jalan yang Kian Sempit
Di bawah flyover kawasan Matraman, Jakarta Timur, Hidayat (52) menjalani hari-harinya sebagai pedagang cangcimen. Sejak pagi hingga sore, ia berada di titik yang sama, menunggu peluang kecil dari arus lalu lintas yang tak menentu.
Jalanan Jakarta bukan tempat baru baginya. Ia sudah puluhan tahun hidup sebagai asongan. Pernah pulang kampung ke Tasikmalaya, namun keterbatasan pekerjaan membuatnya kembali ke ibu kota.
“Dulu halte sama terminal itu masih ramah buat pedagang kecil. Bus berhenti lama, kita bisa masuk nawarin barang,” kata Hidayat.
Kini, kondisi itu berubah. Aturan transportasi semakin ketat. Bus Transjakarta hanya berhenti sebentar. Pedagang di larang masuk. Ruang untuk mencari nafkah pun bergeser ke pinggir jalan.
Di Matraman, Hidayat memilih bertahan dengan cara berbeda. Ia tak lagi naik ke kendaraan, melainkan berdiri di sekitar halte, menunggu orang-orang yang berjalan kaki atau kendaraan yang terjebak macet.
“Sekarang paling ke orang lewat atau sopir angkot,” ujarnya.
Bagi Hidayat, berdiri berjam-jam di pinggir jalan bukan pilihan nyaman, melainkan satu-satunya jalan untuk bertahan.
Modal Kecil, Risiko yang Tak Pernah Kecil
Modal Kecil, Risiko yang Tak Pernah Kecil, menjadi kenyataan sehari-hari bagi Hidayat. Dengan uang terbatas, ia membeli dagangan sedikit demi sedikit dan menghadapi ketidakpastian: hujan, arus lalu lintas lancar, atau sepinya pembeli bisa membuat seluruh usaha hari itu sia-sia.
Pekerjaan rutin Hidayat di mulai pada pukul enam pagi. Ia datang sebelum lalu lintas menjadi sangat padat. Peluang dagangan laku meningkat seiring dengan waktu yang di habiskan..
Hujan atau panas tak menjadi alasan untuk pulang lebih awal. Selama masih bisa berdiri, ia akan bertahan sampai sore. Jam kerja panjang adalah keharusan, bukan pilihan.
Ia bekerja sendiri. Tak ada bos, tak ada setoran. Semua barang dibeli dari uangnya sendiri. Modal dikumpulkan sedikit demi sedikit, dari sisa dagangan hari sebelumnya atau pinjaman kecil dari kerabat.
“Modal ratusan ribu bisa. Belinya nyicil, Rp 30.000, Rp 50.000,” katanya.
Jumlah itu mungkin terlihat kecil, tetapi bagi pedagang asongan, itu adalah seluruh modal hidup. Jika hujan turun seharian atau lalu lintas terlalu lancar, dagangan bisa tak laku.
Keuntungan pun tak menentu. Ada hari-hari ketika tak satu pun barang terjual. Ada juga hari ketika dagangan habis lebih cepat. Namun rata-rata pendapatan harian tak pernah jauh dari puluhan ribu rupiah.
“Kalau dapat Rp 40.000 atau Rp 50.000, dipotong buat makan, sisanya dikirim ke kampung,” ujar Hidayat.
Dagangan cangcimen dipilih karena tak mudah rusak. Jika hari ini tak laku, masih bisa dijual esok hari. Meski begitu, perputaran modal yang lambat membuat ruang geraknya semakin sempit.
Tua di Jalanan, Pilihan Hidup yang Kian Terbatas
Tua di Jalanan, Pilihan Hidup yang Kian Terbatas, menjadi kenyataan bagi pedagang seperti Hidayat. Tubuh yang semakin lelah dan peluang kerja yang sempit membuat berdagang di pinggir jalan bukan sekadar pekerjaan, tetapi satu-satunya cara untuk bertahan hidup.
Usia menjadi tantangan yang semakin terasa. Di tengah dunia kerja yang menuntut tenaga muda dan keterampilan, pedagang asongan seperti Hidayat berada di ujung pilihan.
Pendidikan yang terbatas menutup banyak pintu pekerjaan lain. Berhenti berdagang bukan pilihan realistis, meski tubuh semakin lelah.
“Udah tua juga. Mau kerja di tempat lain susah. Pendidikan saya cuma SD,” katanya lirih.
Untuk tempat tinggal, Hidayat tak mampu menyewa kontrakan atau kos. Malam hari ia habiskan di mushala. Di sanalah ia beristirahat sebelum kembali ke jalan keesokan harinya.
Relasi dengan aparat juga menjadi bagian dari keseharian. Ada lokasi yang masih bisa di toleransi, ada pula yang tak bisa di dekati sama sekali.
Di Matraman, menurut Hidayat, situasinya relatif aman selama pedagang tidak mengganggu dan terus berpindah. Namun rasa waswas tetap ada karena kebijakan bisa berubah kapan saja.
“Kalau di tempat lain kadang di usir. Di sini alhamdulillah masih aman,” ujarnya.
Dagangan yang Bertahan, Ruang Hidup yang Tergerus
Dagangan yang Bertahan, Ruang Hidup yang Tergerus, menjadi kenyataan sehari-hari bagi pedagang cangcimen. Meskipun produk mereka tetap sama dari tahun ke tahun, perubahan kota dan penataan ruang publik perlahan menyusutkan area untuk berdagang. Terminal dan halte yang dulunya ramai kini steril dari aktivitas informal, memaksa pedagang menyesuaikan strategi agar tetap bisa menjangkau pembeli.
Di titik lain, Arman, pedagang cangcimen lainnya, telah lebih dari 20 tahun menjalani hidup di jalanan. Barang dagangannya nyaris tak berubah sejak awal berdagang.
Awalnya, ia terjun dengan modal nekat mengikuti saudara. Jalanan menjadi sekolah yang sesungguhnya, tempat belajar bertahan dan membaca peluang.
“Cangcimen itu modalnya kecil, enggak ribet, dan enggak basi,” kata Arman.
Namun perubahan kota menggerus ruang hidup pedagang kecil. Terminal dan halte yang dulu ramai kini tertib dan steril dari aktivitas informal.
Kini, pembeli utama datang dari sopir angkot dan pengendara yang masih setia membeli satuan. Penumpang bus dan pejalan kaki semakin jarang.
“Kalo sekarang sepi. Ngandelinnya sopir angkot aja,” ujarnya.
Di tengah modernisasi transportasi dan penataan kota, pedagang cangcimen seperti Hidayat dan Arman tetap bertahan. Mereka bukan bagian dari statistik pertumbuhan ekonomi, namun menjadi saksi perubahan kota dari dekat.
Di atas aspal yang terus di lalui kendaraan, mereka menjaga napas hidup dengan cara sederhana. Menunggu, berharap, dan bertahan di kota yang bergerak cepat tanpa selalu menoleh ke belakang.
Kehidupan mereka di jalanan mencerminkan ketangguhan yang tak banyak terlihat. Setiap hari adalah perjuangan kecil yang membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan insting untuk bertahan. Meski tergerus modernisasi dan penataan kota, pedagang cangcimen tetap hadir sebagai bagian dari dinamika urban yang unik, menorehkan cerita yang jarang terekam oleh statistik resmi, Jakarta.
