
Cantonese Dim Sum Adalah Salah Satu Kuliner Paling Ikonik
Cantonese Dim Sum Yang Berasal Dari Wilayah Guangdong Di Selatan Tiongkok. Dim Sum Sendiri Secara Harfiah Berarti “Menyentuh Hati.” Dan memang demikianlah tujuan awal dari makanan ini—di sajikan dalam porsi kecil untuk menemani minum teh, sembari berbincang santai. Dim sum adalah tradisi kuliner yang erat kaitannya dengan budaya yum cha, yaitu kebiasaan minum teh pagi atau siang sambil menikmati aneka makanan ringan yang di kukus atau di goreng. Kini, dim sum bukan hanya menjadi kebanggaan kuliner Guangdong, tetapi telah menyebar ke seluruh dunia dan di gemari berbagai kalangan karena kelezatannya yang variatif dan menggoda.
Hidangan Cantonese Dim Sum di sajikan dalam porsi kecil di dalam wadah bambu kukus atau piring-piring mungil. Ada ratusan jenis dim sum, namun beberapa yang paling populer antara lain siu mai (pangsit terbuka berisi daging dan udang), har gow (pangsit udang transparan dengan kulit tipis), cheung fun (gulungan mi beras dengan isian), baozi (roti kukus berisi daging atau kacang merah), dan lo mai gai (nasi ketan dengan ayam yang di bungkus daun teratai). Ada juga variasi gorengan seperti lumpia, kaki ayam berbumbu, dan kue lobak goreng. Semua di sajikan untuk di makan bersama, menciptakan pengalaman makan yang interaktif dan penuh keakraban.
Salah satu daya tarik utama Cantonese Dim Sum adalah keahlian dalam teknik memasak dan keindahan penyajiannya. Setiap potongan di buat dengan teliti, menampilkan harmoni rasa dan tekstur. Tidak hanya enak, dim sum juga menggambarkan filosofi keseimbangan dalam kuliner Tiongkok—antara rasa gurih, manis, asin, dan lembut. Tradisi dim sum juga mencerminkan nilai kebersamaan dalam budaya Tionghoa, karena biasanya di santap beramai-ramai dengan keluarga atau teman.
Cantonese dim sum bukan sekadar makanan, tapi warisan budaya yang mencerminkan tradisi, kreativitas, dan kehangatan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kanton
Sejarah Kuliner Ini
Cantonese Dim Sum memiliki sejarah panjang yang berakar dari budaya kuno Tiongkok, khususnya dari wilayah selatan Tiongkok, yaitu Guangdong (Kanton). Tradisi ini bermula dari kebiasaan “yum cha”, yang secara harfiah berarti “minum teh”. Sekitar ribuan tahun yang lalu, para pedagang, pelancong. Dan petani yang menempuh perjalanan jauh akan beristirahat di rumah teh di pinggir jalan. Di sinilah mereka menikmati secangkir teh hangat sebagai penyegar tubuh. Yang kemudian berkembang menjadi budaya menyajikan makanan ringan untuk menemani minum teh—dan lahirlah dim sum Sejarah Kuliner Ini.
Pada awalnya, dim sum hanyalah camilan sederhana berupa roti kukus atau makanan kecil yang mudah di buat. Namun, ketika budaya yum cha mulai populer di kota-kota besar seperti Guangzhou dan kemudian menyebar ke Hong Kong, para koki mulai menciptakan berbagai variasi dim sum yang lebih rumit dan artistik. Di sinilah muncul berbagai jenis dim sum yang kita kenal hari ini, seperti har gow (pangsit udang) dan siu mai (pangsit daging terbuka), yang membutuhkan keahlian khusus dalam teknik memasak dan penyajian.
Perkembangan dim sum juga tidak lepas dari pengaruh istana dan budaya bangsawan Tiongkok. Dalam dinasti-dinasti besar seperti Tang dan Song, makanan-makanan kecil yang cantik dan lezat sangat di sukai di kalangan keluarga kerajaan. Seni membuat dim sum pun menjadi semacam keterampilan kuliner yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Pada abad ke-20, ketika banyak warga Kanton bermigrasi ke luar negeri, mereka membawa serta budaya dim sum ke berbagai penjuru dunia—termasuk Asia Tenggara, Amerika Utara, dan Eropa. Restoran dim sum mulai bermunculan di mana-mana, dan tradisi ini pun di kenal luas oleh masyarakat internasional. Hari ini, dim sum bukan hanya bagian dari budaya Kanton, tetapi juga menjadi ikon kuliner global yang mencerminkan keindahan, tradisi, dan kebersamaan dalam satu meja.
Kelezatan Cantonese Dim Sum
Cantonese Dim Sum adalah salah satu hidangan khas Tiongkok yang di kenal karena kelezatannya. Yang luar biasa dan ragam cita rasa yang memikat. Setiap sajian dim sum hadir dalam porsi kecil namun kaya akan rasa, tekstur. Dan aroma, menjadikannya pengalaman makan yang menyenangkan dan menggugah selera. Kelezatan dim sum terletak pada keseimbangan antara bahan berkualitas tinggi dan teknik memasak tradisional yang sudah di wariskan turun-temurun. Misalnya, har gow, pangsit udang dengan kulit tipis bening, memiliki isian udang yang segar dan gurih, sementara teksturnya lembut dan kenyal. Atau siu mai, pangsit terbuka berisi daging babi cincang dan udang yang juicy, di sajikan dalam balutan tipis yang kukus hingga sempurna Kelezatan Cantonese Dim Sum.
Setiap gigitan dim sum menyuguhkan perpaduan rasa yang harmonis—gurih, manis, dan umami, tanpa ada rasa yang terlalu mendominasi. Selain di kukus, beberapa dim sum juga di goreng atau di panggang, menambahkan variasi rasa dan tekstur seperti renyahnya spring roll, atau legitnya char siu bao—roti kukus berisi daging babi manis yang empuk dan lembut. Bahkan ada yang berbahan dasar ketan seperti lo mai gai, nasi ketan berbumbu dengan potongan ayam, jamur, dan sosis Tiongkok, di bungkus dalam daun teratai yang harum.
Tidak hanya kelezatan dari bahan utama, saus pelengkap juga memperkaya pengalaman makan. Sambal pedas, kecap asin, saus hoisin, atau cuka hitam menjadi pilihan celupan yang memperkuat rasa setiap hidangan. Dim sum pun di sajikan panas-panas, langsung dari kukusan bambu ke meja makan, menjaga rasa dan kesegarannya.
Kelezatan dim sum juga di perkuat oleh suasana menikmatinya: ramai, hangat, dan penuh interaksi. Menikmati berbagai jenis makanan kecil sambil minum teh dan bercengkrama bersama keluarga atau teman membuat pengalaman menyantap dim sum tak hanya memuaskan perut, tapi juga hati.
Resepnya Cantonese Dim Sum
Membuat Cantonese Dim Sum di rumah bisa menjadi aktivitas menyenangkan yang membawa nuansa restoran khas Tiongkok ke meja makan Anda. Salah satu jenis dim sum paling populer yang bisa Anda coba buat adalah siu mai (shumai). Pangsit kukus berisi daging dan udang. Untuk membuatnya. Bahan utama yang di perlukan adalah 250 gram daging babi cincang (bisa di ganti ayam untuk versi halal), 150 gram udang kupas cincang kasar, 2 sdm kecap asin, 1 sdm minyak wijen, 1 sdt gula, 1/2 sdt lada putih, 1 sdt tepung maizena, dan kulit pangsit berbentuk bulat Resepnya Cantonese Dim Sum.
Campurkan semua bahan isian ke dalam mangkuk besar dan aduk rata hingga lengket. Ambil selembar kulit pangsit, letakkan satu sendok makan adonan di tengahnya, dan bentuk dengan cara mengerutkan bagian tepi kulit sambil di tekan perlahan agar menyerupai mangkuk kecil terbuka. Bisa di tambahkan sedikit wortel parut atau telur kepiting di atasnya untuk hiasan. Setelah semua siu mai di bentuk, susun di atas kukusan yang telah di alasi daun pisang atau kertas minyak agar tidak lengket.
Panaskan kukusan, lalu kukus siu mai selama 10–12 menit hingga matang dan beraroma harum. Sajikan panas-panas dengan saus celupan seperti kecap asin, sambal, atau saus cuka hitam. Selain siu mai, dim sum lain yang mudah di buat di rumah adalah har gow, spring roll, dan char siu bao. Meskipun proses pembuatannya bisa cukup teliti, hasilnya akan sepadan karena menghadirkan rasa autentik dan hangatnya kebersamaan saat menyantap bersama keluarga.
Rahasia utama dari dim sum yang lezat terletak pada bahan segar, perpaduan bumbu yang seimbang, dan teknik memasak yang tepat, terutama dalam hal mengukus. Jika ingin mencoba variasi lainnya, Anda bisa bereksperimen dengan isian sayuran, ayam cincang, atau jamur Cantonese Dim Sum.