Gen Z Paling Kesepian Di Kantor? Ini Faktanya

Gen Z Paling Kesepian Di Kantor? Ini Faktanya

Gen Z Paling Kesepian Di Kantor? Ini Faktanya Yang Menjadi Fenomena Paling Sering Mereka Rasakan Ketika Bekerja. Belakangan ini, muncul anggapan bahwa Gen Z adalah generasi paling kesepian di kantor. Narasi ini ramai di bahas di media sosial hingga forum karier profesional. Banyak yang menyebut, meski terlihat aktif secara digital. Dan generasi yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an ini justru merasa terisolasi di dunia kerja. Lantas, apakah benarGen Z paling kesepian di kantor? Jika melihat berbagai survei global tentang kesehatan mental di tempat kerja.

Maka memang ada kecenderungan bahwa pekerja muda melaporkan tingkat kesepian. Serta keterasingan yang lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya. Namun, penting untuk memahami konteks di balik angka tersebut. Transisi dari dunia pendidikan ke dunia profesional bukan hal mudah. Mereka memasuki pasar kerja di era penuh perubahan. Mulai dari pandemi, sistem kerja hybrid, hingga tekanan produktivitas digital. Kondisi ini secara tidak langsung membentuk pengalaman sosial mereka di kantor.

Budaya Kerja Hybrid Dan Dampaknya Pada Interaksi Sosial

Salah satu faktor utama yang sering di kaitkan dengan kesepian mereka di kantor adalah Budaya Kerja Hybrid Dan Dampaknya Pada Interaksi Sosial. Banyak dari mereka memulai karier saat perusahaan menerapkan work from home. Akibatnya, interaksi tatap muka dengan rekan kerja menjadi terbatas. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang membangun relasi melalui obrolan santai di pantry atau makan siang bersama. Dan mereka lebih sering berinteraksi lewat layar. Meeting dilakukan via video call, koordinasi lewat chat, dan diskusi lewat platform kolaborasi digital.

Secara efisien, sistem ini memang efektif. Namun di sisi lain, minimnya interaksi informal membuat ikatan sosial lebih sulit terbentuk. Padahal, rasa memiliki (sense of belonging) di kantor sangat dipengaruhi oleh kedekatan emosional dengan tim. Selain itu, mereka di kenal lebih terbuka membicarakan kesehatan mental. Mereka tidak segan mengakui ketika merasa kesepian atau terisolasi. Hal ini bisa jadi membuat angka kesepian tampak lebih tinggi, bukan karena mereka lebih rapuh. Akan tetapi karena mereka lebih jujur dalam mengungkapkan perasaan.

Tekanan Ekspektasi Dan Perbandingan Sosial

Selain faktor sistem kerja, Tekanan Ekspektasi Dan Perbandingan Sosial. Dan mereka tumbuh di era media sosial yang penuh perbandingan. Ketika memasuki dunia kerja, mereka tidak hanya membandingkan diri dengan rekan sekantor. Akan tetapi juga dengan pencapaian orang lain yang terlihat “sempurna” di LinkedIn atau Instagram. Akibatnya, muncul perasaan tertinggal atau tidak cukup baik. Jika tidak di imbangi dengan dukungan lingkungan kerja yang suportif. Maka kondisi ini bisa memperkuat rasa kesepian. Mereka mungkin berada di kantor yang ramai, tetapi tetap merasa sendirian secara emosional.

Di sisi lain, struktur organisasi yang kaku juga bisa membuatnya merasa kurang di dengar. Generasi ini cenderung menghargai komunikasi terbuka dan transparansi. Ketika ide atau pendapat mereka tidak mendapat ruang, rasa keterasingan bisa muncul. Namun demikian, bukan berarti semua generasi ini pasti kesepian di kantor. Banyak juga yang justru berkembang pesat karena lingkungan kerja yang inklusif dan kolaboratif. Artinya, pengalaman ini sangat bergantung pada budaya perusahaan dan kualitas kepemimpinan.

Solusi: Membangun Koneksi Yang Lebih Manusiawi

Lalu, bagaimana Solusi: Membangun Koneksi Yang Lebih Manusiawi? Kuncinya terletak pada membangun koneksi yang lebih manusiawi. Perusahaan dapat menciptakan ruang interaksi informal. Tentunya seperti kegiatan tim, mentoring, atau diskusi santai lintas divisi. Selain itu, atasan memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman secara psikologis. Memberi ruang untuk berbagi ide, mendengarkan aspirasi. Serta yang memberikan umpan balik yang konstruktif bisa memperkuat rasa keterhubungan.

Bagi mereka sendiri, penting untuk proaktif membangun relasi. Mengajak rekan kerja makan siang, bergabung dalam komunitas internal. Atau hanya sekadar memulai percakapan ringan bisa menjadi langkah sederhana namun bermakna. Pada akhirnya, isu mereka paling kesepian di kantor bukan sekadar soal generasi. Akan tetapi soal dinamika perubahan dunia kerja. Dengan pendekatan yang tepat, lingkungan profesional bisa menjadi tempat tumbuh yang tidak hanya produktif. Serta juga hangat dan penuh koneksi untuk tepis rasa kesepian Gen Z.